Mendongeng
Dunia anak merupakan sebuah dunia yang penuh dan kaya dengan imajinasi atau fantasi, maka tidak mengherankan apabila anak – anak sangat sekali menyukai dongeng atau cerita. Cerita dapat menjadi media yang efektif untuk pendidikan anak baik pendidikan moral, pendidikan emosi, pendidikan spiritual maupun pendidikan intelektual. Pendidikan moral misal tentang kejujuran, keadilan, suka menolong, pendidikan emosi misal tentang kepekaan dan solider terhadap penderitaan orang lain, pendidikan spiritual mengenai kasih dan pengampunan Tuhan, takut akan Tuhan, sedangkan pendidikan intelektual berkaitan dengan pelajaran fisika dan kimia.
Namun di jaman sekarang ini dimana banyak keluarga yang kedua orangtua bekerja, berangkat pagi dan pulang malam sehingga praktis waktu yang dapat digunakan untuk berkumpul dengan keluarga hanya hari Sabtu dan Minggu. Apakah waktu 2 (dua) hari tersebut dapat mendekatkan kita dengan anak-anak? Jika jawabannya tidak, maka hal yang dapat dilakukan adalah menyisihkan waktu kita sedikitnya 30 menit setiap harinya untuk membacakan dongeng atau bercerita untuk anak – anak kita. Karena dengan mendongeng dapat dijadikan cara untuk berkomunikasi dan mendekatkan diri dengan anak serta dalam dongeng kita dapat menyampaikan pesan yang kita inginkan pada anak.
Pada awalnya aku tidak terbiasa membacakan dongeng untuk anakku, karena aku tidak terbiasa mendongeng dan juga tidak punya ide untuk mendongeng. Hingga pada suatu hari saat aku pulang kerja, aku diberitahu oleh pengasuhnya kalau Becky mencoret – coret di dinding. Yang terlintas dalam benakku saat itu adalah bahwa dinding rumahku akan kotor dan banyak coretan – coretan hasil karya si kecil, dimana saat itu Becky baru berusia 20 bulan. Kebetulan ketika itu aku membawa majalah Bee, sewaktu aku membuka – buka isinya ternyata ada cerita dengan judul ‘Mencoret – coret Dinding’. Langsung saja pada malam harinya sebelum tidur aku membacakan cerita bergambar itu untuk Becky. Dalam cerita itu dikisahkan bahwa tokoh cerita tersebut (Nila) sedang senang menggambar di dinding sehingga dinding rumahnya menjadi kotor. Selesai kubacakan cerita tersebut aku mengulangnya kembali dengan bahasaku sendiri sehingga lebih mudah dimengerti dan diingat oleh Becky. Dan cerita tersebut berhasil, karena keesokan harinya Becky sudah tidak mencoret – coret dinding lagi.
Sejak kejadian tersebut sampai sekarang setiap malam aku membacakan dongeng atau bercerita terutama bila aku ingin menyampaikan suatu pesan tertentu dan biasanya selalu berhasil. Setelah selesai bercerita aku biasanya memberitahukan tentang tema dari cerita itu dan mengulangi lagi inti ceritanya. Setelah itu aku memberikan pertanyaan seputar cerita tersebut atau meminta Becky untuk mengulang ceritanya untuk memastikan bahwa dia mengerti isi ceritanya. Yang terjadi sekarang adalah Becky tidak bisa tidur jika tidak mendengarkan cerita atau dongeng. Dan sekarang Becky sudah mampu bercerita sendiri tanpa membaca buku serta dapat menyampaikan tema dari ceritanya.
Bagaimana dengan anda dan anak anda sendiri?
Popularity: 3% [?]




















Leave your response!